Senin, 03 Februari 2014

PELAJARAN 06. PENCIPTAAN DAN PEMELIHARAAN ALLAH

Nama Kursus
:
Doktrin Allah Sejati
Nama Pelajaran
:
Penciptaan Dan Pemeliharaan Allah
Kode Pelajaran
:
DAS-P06

PELAJARAN 06. PENCIPTAAN DAN PEMELIHARAAN ALLAH

Daftar Isi

  1. Penciptaan
    1. Pengertian
    2. Doktrin Penciptaan dalam Sejarah
    3. Bukti Alkitab dan Dasar Teologis Penciptaan
  2. Pemeliharaan Allah (Providensia Allah)
    1. Arti Etimologi (Asal Kata)
    2. Pengertian/Definisi
    3. Unsur-unsur Providensia Allah
Doa

PENCIPTAAN DAN PEMELIHARAAN ALLAH

"Sebab beginilah firman Tuhan, yang menciptakan langit, Dialah Allah yang membentuk bumi dan menjadikannya dan yang menegakkannya, dan Ia menciptakannya bukan supaya kosong, tetapi Ia membentuknya untuk didiami: 'Akulah Tuhan dan tidak ada yang lain"
(Yesaya 45:18)

.
A.     Penciptaan
Pembicaraan tentang ketetapan-ketetapan Allah biasanya membawa kita pada pemikiran tentang pelaksanaan dari semua ketetapan tersebut, dan hal ini dimulai dengan karya penciptaan. Penciptaan ini bukan saja yang pertama dalam susunan waktu, tetapi juga berdasarkan urutan logisnya. Penciptaan adalah permulaan dan dasar dari semua penyataan ilahi dan sebagai akibatnya juga merupakan dasar dari semua kehidupan etis dan religius.
Doktrin tentang penciptaan tidak dikemukakan dalam Alkitab sebagai solusi filosofis dari problem dunia, tetapi dalam kepentingan etis dan religiusnya, sebagai suatu penyataan dari hubungan antara manusia dengan Tuhannya. Doktrin penciptaan menekankan bahwa fakta tentang Allah adalah asal mula dari segala sesuatu dan bahwa segala sesuatu adalah kepunyaan-Nya dan berhadapan dengan-Nya. Pengetahuan tentang doktrin penciptaan ini diturunkan dari Alkitab saja dan diterima melalui iman (Ibrani 11:3), walaupun Katolik Roma tetap berpegang pada pendapat bahwa doktrin penciptaan itu dapat juga diperoleh dari Alam.
1.      Pengertian
Penciptaan adalah tindakan bebas Allah di mana Allah menghasilkan dunia dan semua yang ada di dalamnya (baik materi maupun spiritual), sebagian tanpa bahan dan sebagian dengan bahan. Ia menciptakan untuk tujuan yang baik, yaitu sebagai penyataan akan kemuliaan, kekuasaan, kebijaksanaan, dan kebaikan-Nya. Orang Kristen percaya akan Doktrin Penciptaan (Teori Kreasi) berdasarkan pada kesaksian Alkitab (Kejadian pasal 1). Pengetahuan tentang penciptaan tidak mungkin diperoleh dari pemikiran manusia karena manusia sendiri adalah hasil ciptaan itu. Oleh karena itu, jika bukan Allah sendiri yang menyatakannya (sebagai Pencipta), maka tidak mungkin manusia dapat mengetahuinya.

2.      Doktrin Penciptaan dalam Sejarah
a.      Gereja Mula-Mula percaya akan penciptaan sebagai tindakan bebas Allah dan juga sebagai ex-nihilo (diciptakan tanpa bahan). Ajaran ini sangat penting pada masa itu karena digunakan untuk melawan ajaran Gnostik yang percaya bahwa materi adalah sesuatu yang jahat. Namun demikian, ada perbedaan pendapat yang berkaitan dengan istilah "hari", apakah itu memiliki arti literal, suatu periode tertentu, atau satu waktu tunggal yang tidak terbagi.
b.      Augustinus: Dari kekekalan penciptaan ada dalam kehendak Allah. Tidak ada waktu sebelum penciptaan, karena dunia dijadikan dengan waktu (bukan dalam waktu). Penciptaan adalah tanpa bahan (ex-nihilo). Hari-hari dalam penciptaan adalah sebuah momen waktu untuk memberikan kelengkapan pada keterbatasan intelegensi manusia.

c.       Pada masa Reformasi, konsep ex-nihilo dipertahankan dengan kuat karena -- suatu tindakan bebas Allah -- diciptakan dalam waktu 6 hari dalam arti harafiah.

d.      Sesudah Reformasi: Pengaruh ilmu pengetahuan dan konsep modern melahirkan kompromi teologi dengan menganggap bahwa kisah dalam Kejadian 1 hanyalah mitos/alegoris. Ada jeda waktu putus sesudah Kejadian 1:1-2 dengan ayat-ayat selanjutnya. Dan satu hari adalah waktu yang lama sekali yaitu jutaan tahun.


3.      Bukti Alkitab dan Dasar Teologis Penciptaan
Bukti Alkitab bagi doktrin penciptaan tidaklah ditemukan dalam satu ayat tunggal yang terbatas dalam Alkitab, tetapi dapat kita temukan dalam setiap bagian firman Tuhan. Doktrin penciptaan ini tidaklah terdiri dari sedikit ayat yang tersebar dengan penafsiran yang meragukan, akan tetapi dinyatakan dalam sejumlah besar ayat yang jelas dan dalam pernyataan-pernyataan yang sama sekali tidak meragukan, yang membicarakan tentang penciptaan dunia sebagai suatu fakta historis. Pertama-tama, kita mendapatkan pemaparan yang panjang lebar tentang penciptaan di dalam dua pasal pertama kitab Kejadian, yang kemudian akan dibicarakan secara terperinci saat membahas penciptaan dalam semesta secara materi.
Walaupun dalam memaparkan tentang penciptaan juga menyinggung tentang penciptaan langit, tetapi Alkitab tidaklah terlalu menghabiskan waktu untuk menceritakan tentang penciptaan dunia spiritual, dan ini merupakan suatu hal yang sangat penting. Alkitab lebih memusatkan diri pada penjabaran tentang penciptaan dunia materi saja, dan terutama menekankan bahwa dunia materi ini dipersiapkan untuk tempat tinggal manusia dan sebagai arena untuk semua kegiatan manusia. Penjelasan Alkitab tentang penciptaan ini tidaklah terlalu berurusan dengan kenyataan-kenyataan yang tidak kasat mata, dan oleh sebab semua hal yang kasat mata itu menyangkut indera manusia, maka penciptaan ini bukan saja menjadi pokok bahasan yang penting dalam teologi melainkan juga dalam ilmu-ilmu pengetahuan yang lain, termasuk filsafat. Akan tetapi, sementara filsafat berusaha memahami asal mula alam semesta dan segala sesuatu berdasarkan kemampuan pemikiran manusia, teologi memulai titik berangkatnya pada Tuhan, dan membiarkan dirinya dipimpin oleh wahyu khusus-Nya yang menyatakan karya penciptaan, dan melihat segala sesuatu dalam hubungan dengan-Nya. Kisah tentang penciptaan adalah permulaan dari wahyu Allah sendiri, dan memperkenalkan kita pada hubungan yang mendasar di mana segala sesuatu termasuk manusia harus berdiri di hadapan-Nya. Penjelasan Alkitab menekankan kedudukan manusia yang sebenarnya, dengan maksud agar seluruh umat manusia di segala zaman memiliki pengertian yang benar bahwa seluruh Alkitab berisi wahyu pendamaian.

§  Pasal-pasal yang menekankan kemahakuasaan Allah dalam karya penciptaan: Yesaya 40:26-28; Amos 4:13.
§  Ayat-ayat yang menunjuk kepada pemuliaan Allah di atas alam semesta sebagai Allah yang besar dan tiada terbatas: Mazmur 90:2; Kisah Para Rasul 17:24.
§  Ayat-ayat yang menunjuk kebijaksanaan Allah dalam karya penciptaan: Yesaya 40:12-14; Yeremia 10:12-16; Yohanes 1:3.
§  Ayat-ayat yang memandang penciptaan dari sudut pandang kedaulatan Allah dan tujuan penciptaan: Yesaya 43:7; Roma 1:25.
§  Ayat-ayat yang membicarakan penciptaan sebagai karya fundamental Allah: 1 Korintus 11:9; Kolose 1:16.

f.        Tindakan bebas Allah yang menunjukkan kedaulatan-Nya.
Bukan merupakan suatu kebutuhan jika Allah menciptakan alam semesta, karena Allah sempurna adanya dan tidak tergantung pada apa pun. Dan juga Allah tidak menciptakan alam semesta dari diri-Nya sendiri. Keberadaan alam semesta bukanlah perluasan dari keberadaan Allah karena alam semesta adalah bebas, di luar Allah. Wahyu 4:11, "Ya Tuhan dan Allah kami, Engkau layak menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa; sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu; dan oleh karena kehendak-Mu semuanya itu ada dan diciptakan."
"Dan juga tidak dilayani oleh tangan manusia, seolah-olah Ia kekurangan apa-apa, karena Dialah yang memberikan hidup dan nafas dan segala sesuatu kepada semua orang." (Kisah Para Rasul 17:25)

g.      Tujuan paling utama yang dilihat-Nya bukanlah untuk memperoleh kemuliaan, melainkan untuk memanifestasikan kemuliaan yang dimiliki-Nya.
Dalam melakukan hal itu Ia juga akan menyebabkan surga menyatakan kemuliaan-Nya, dan cakrawala menunjukkan pekerjaan tangan-Nya, burung-burung di udara dan binatang buas memuliakan-Nya, dan anak-anak manusia menyanyikan pujian. Akan tetapi, pujian kepada Sang Pencipta tidaklah menambahkan apa-apa pada kesempurnaan keberadaan-Nya, tetapi hanyalah mengakui kebesaran-Nya dan memberikan kepada-Nya kemuliaan bagi-Nya.
Alam semesta merupakan hasil karya Allah yang diciptakan dengan tujuan untuk memperlihatkan kemuliaan-Nya. Oleh karena itu, patutlah kita mempelajarinya agar dapat menyaksikan kemuliaan Allah. Selain itu, adalah wajar bagi kita untuk berusaha semaksimal mungkin untuk memuliakan Dia. Jawaban terhadap doa-doa kita dengan sendirinya akan membuat kita memuliakan Tuhan; demikian pula kita harus memuliakan Dia setelah menyelidiki janji-janji dan persediaan Allah menuntun kita memuliakan Dia. Bahkan, seperti yang dinasihatkan oleh Paulus, "Jika Engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah"(I Korintus 10:31).
Yesaya 43:7, "Semua orang yang disebutkan dengan nama-Ku yang Kuciptakan untuk kemuliaan-Ku, yang Kubentuk dan yang juga Kujadikan!"
Wahyu 4:11, "Ya Tuhan dan Allah kami, Engkau layak menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa; sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu; dan oleh karena kehendak-Mu semuanya itu ada dan diciptakan."

                        Pemeliharaan Allah (Providensia Allah)
Doktrin penciptaan segera diikuti dengan doktrin providensia yang di dalamnya jelas didefinisikan pandangan Alkitab tentang hubungan antara Allah dengan dunia. Walaupun istilah "providensia" tidak ditemukan dalam Alkitab, doktrin providensia sesungguhnya memancar dari Alkitab.
                        Arti Etimologi (Asal Kata)
Kata ini berasal dari bahasa Yunani "Pronoia", yang artinya pengetahuan awal. Dalam bahasa Latin "Providentia", artinya tindakan kemurahan Allah menyediakan segala sesuatu yang diperlukan ciptaan-Nya.
                        Pengertian
 .        Providensia adalah aktivitas Allah (Pencipta) yang terus-menerus oleh rahmat-Nya dan kebaikan-Nya yang melimpah menegakkan ciptaan-Nya dalam keadaan teratur, memimpin dan memerintahkan segala sesuatu kepada tujuan yang telah ditetapkan demi kemuliaan-Nya.

a.      Keterlibatan Allah secara terus-menerus dengan semua ciptaan-Nya sedemikian rupa, sehingga Allah selalu menjaga keberadaan ciptaan dan memelihara semua sifat-sifat yang dimiliki mereka sebagaimana Allah menciptakan mereka. Dan juga bekerja sama dengan semua ciptaan-Nya dalam setiap tindakan, dan menuntun serta mengarahkan semua sifat-sifat yang dimiliki mereka itu sebagaimana seharusnya, dan mengarahkan mereka untuk memenuhi semua kehendak-Nya.

Inti pengajaran doktrin pemeliharaan Allah adalah penekanan pada pemerintahan Allah atas alam semesta. Dia memerintah ciptaan-Nya dengan kedaulatan dan otoritas yang mutlak. Dia memerintah segala sesuatu yang akan terjadi, mulai dari yang paling besar sampai yang paling kecil. Tidak ada sesuatu pun yang terjadi di luar lingkup pemerintahan pemeliharaan Allah yang berdaulat. Dia yang membuat hujan turun dan matahari bersinar. Dia yang mendirikan kerajaan dan yang menghancurkan kerajaan. Dia mengetahui jumlah rambut di kepala kita dan hari-hari dalam kehidupan kita.
Ada perbedaan yang krusial antara pemeliharaan Allah, keberuntungan, dan takdir atau kebetulan. Kunci dari perbedaan ini terletak pada karakter Allah. Keberuntungan adalah buta, sedangkan Allah melihat segala sesuatu. Takdir tidak berpribadi, sedangkan Allah seorang Bapa. Kebetulan adalah bisu, sedangkan Allah berbicara. Tidak ada kekuatan-kekuatan yang buta dan tidak berpribadi yang bekerja dalam sejarah manusia. Semua terjadi oleh karena tangan pemelihara yang tidak kelihatan.

Di dalam sebuah alam semesta yang diperintah oleh Allah tidak ada peristiwa yang terjadi secara kebetulan. Pada dasarnya tidak ada yang disebut dengan kebetulan. Kebetulan tidak pernah ada. Kata itu hanya kita gunakan untuk menjelaskan kemungkinan-kemungkinan secara matematika. Tetapi, kebetulan itu sendiri bukan merupakan suatu keberadaan yang dapat memengaruhi realitas.
Aspek lain dari pemeliharaan Allah disebut dengan bekerja sama. Kerja sama ini menunjuk pada kesatuan antara tindakan Allah dan tindakan manusia. Kita adalah makhluk ciptaan yang memiliki kehendak dalam diri kita sendiri. Kita dapat menjadikan sesuatu terjadi. Namun, kuasa yang kita keluarkan sebagai penyebab dari hal itu merupakan hal yang kedua. Kedaulatan dari pemeliharaan Allah berada di atas dan melampaui tindakan-tindakan kita. Dia bekerja berdasarkan kehendak-Nya melalui tindakan-tindakan dari kehendak manusia. Contoh yang paling jelas untuk kerjasama ini dapat kita temukan dalam kisah Yusuf dan saudara-saudaranya dalam Alkitab. Meskipun saudara-saudara Yusuf menyatakan rasa bersalah mereka atas apa yang telah mereka lakukan pada Yusuf, pemeliharaan Allah bekerja bahkan melalui dosa yang mereka lakukan. Yusuf berkata kepada saudara-saudaranya, "Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar" (Kejadian 50:20).


                        Objek dari Providensia Allah
 .        Ajaran Alkitab
Alkitab jelas mengajarkan pengaturan providensia Allah atas seluruh alam semesta secara luas (Mazmur 103:19). Atas penciptaan binatang (Mazmur 104:14); atas semua kegiatan bangsa-bangsa (Ayub 12:23); atas kelahiran dan hidup manusia (Galatia 1:1-15); atas keberhasilan dan kegagalan manusia (Mazmur 75:6); atas hal-hal yang tampaknya hanyalah ketidaksengajaan atau tidak penting (Amsal 16:33); dalam perlindungan atas orang benar (Mazmur 4:8); dalam memenuhi kebutuhan umat-Nya (Filipi 4:19); dalam memberikan jawaban terhadap doa (1 Samuel 1:19); dan dalam menghukum kejahatan (Mazmur 7:12).

a.      Providensia umum dan khusus
Para teolog pada umumnya membedakan antara providensia umum dan providensia khusus, di mana providensia umum adalah pengaturan Allah atas seluruh alam semesta sebagai satu kesatuan, dan providensia khusus adalah pemeliharaan Allah dari setiap bagian alam semesta dalam hubungannya dengan keseluruhan. Keduanya bukanlah dua jenis providensia yang dilakukan dalam hubungan yang berbeda. Istilah "providensia khusus" mungkin dapat memiliki konotasi khusus dan dalam beberapa hal menunjuk pada perlindungan dan campur tangan Allah secara khusus bagi manusia.


Akhir Pelajaran (DAS-P06)


DOA

"Terima kasih Tuhan Yesus untuk pembelajaran hari ini, di mana kami boleh lebih lagi mensyukuri karya-Mu dalam hidup kami dan pemeliharaan-Mu yang sempurna atas kami, yang menjadi penolong dalam hidup kami. Kuatkanlah kami sehingga kami dapat membagikan berkat ini kepada orang lain. Amin."

Pelajaran 05. KETETAPAN ALLAH DAN PREDESTINASI

Nama Kursus
:
Doktrin Allah Sejati
Nama Pelajaran
:
Ketetapan Allah Dan Predestinasi
Kode Pelajaran
:
DAS-P05

Pelajaran 05. KETETAPAN ALLAH DAN PREDESTINASI

Daftar Isi

Bacaan Alkitab: Efesus 1:11
  1. Ketetapan Allah
    1. Pengertian
    2. Sifat Ketetapan Allah
    3. Hubungan Ketetapan dan Kehendak Allah
    4. Kesulitan-Kesulitan Menerima Doktrin Ketetapan Allah
  2. Predestinasi (Doktrin Pilihan)
    1. Pengertian
    2. Bukti Alkitab
    3. Kesalahpahaman yang Sering Terjadi
    4. Kesalahpahaman dari Doktrin Predestinasi (Pilihan)
Doa

KETETAPAN ALLAH DAN PREDESTINASI

"Aku katakan 'di dalam Kristus', karena di dalam Dialah kami mendapat bagian yang dijanjikan -- kami yang dari semula ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya".
(Efesus 1:11)
A.     Ketetapan Allah
Allah menyelenggarakan segala sesuatu menurut keputusan kehendak-Nya, maka sudah pada tempatnya kalau karya-karya Allah diuraikan setelah pribadi Allah dibicarakan. Akan tetapi, sebelum hal ini dapat dilakukan, kita terlebih dahulu harus menganalisis ketetapan-ketetapan Allah.

1.      Pengertian
Ketetapan Allah adalah rencana kekal Allah yang dilandaskan pada pertimbangan ilahi yang paling bijaksana dan kudus. Dengan jalan ini maka Allah secara bebas dan tidak berubah, demi kemuliaan-Nya sendiri, telah menetapkan secara efektif segala sesuatu yang akan terjadi.

2.      Ciri-ciri khas Ketetapan Allah
a.      Ketetapan Allah bersifat kekal
Dalam pengertian bahwa ketetapan ini terletak sepenuhnya dalam kekekalan. Dalam satu pengertian tertentu dapat dikatakan bahwa semua tindakan Allah adalah kekal, sebab tidak ada urut-urutan waktu dalam keberadaan Allah. Dalam Efesus 1:4, "Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya." 2 Timotius 1:9, "Dialah yang menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan maksud dan kasih karunia-Nya sendiri, yang telah dikaruniakan kepada kita dalam Kristus Yesus sebelum permulaan zaman." 1 Petrus 1:20, "Ia telah dipilih sebelum dunia dijadikan, tetapi karena kamu baru menyatakan diri-Nya pada zaman akhir."

b.      Ketetapan itu berdasarkan pada Hikmat Allah dan Pengetahuan Allah
Ada banyak hal dalam ketetapan Allah yang melampaui pemahaman manusia dan tak dapat dijelaskan dengan akal manusia yang terbatas. Akan tetapi, pertimbangan itu sama sekali tidak berisi sesuatu yang irasional atau sembarangan saja. Allah membentuk ketetapan-Nya dengan satu kebijaksanaan dan pengetahuan yang berasal dari dalam diri-Nya. Efesus 3:10-11, "Supaya sekarang oleh jemaat diberitahukan pelbagai ragam hikmat Allah kepada pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa di sorga, sesuai dengan maksud abadi, yang telah dilaksanakan-Nya dalam Kristus Yesus, Tuhan kita."

Mazmur 104:24, "Betapa banyak perbuatan-Mu, ya TUHAN, sekaliannya Kaujadikan dengan kebijaksanaan, bumi penuh dengan ciptaan-Mu."
Yeremia 10:12, "Tuhanlah yang menjadikan bumi dengan kekuatan-Nya, yang menegakkan dunia dengan kebijaksanaan-Nya, dan yang membentangkan langit dengan akal budi-Nya." Ketetapan Allah itu pasti akan terjadi/terpenuhi. Apa yang telah Ia tetapkan pastilah akan terjadi; dan bahwa tidak ada satu pun yang dapat menghalangi maksud-Nya.
Yesaya 46:10, "Yang memberitahukan dari mulanya hal yang kemudian dan dari zaman purbakala apa yang belum terlaksana, yang berkata: Keputusan-Ku akan sampai, dan segala kehendak-Ku akan Kulaksanakan."

c.       Ketetapan Allah itu tidak berubah
Manusia mungkin memiliki rencana-rencana, dan bahkan seringkali mengubah rencananya karena berbagai alasan. Ada kemungkinan dalam membuat rencana itu ia kurang sungguh-sungguh dalam mengejar tujuannya, sehingga ia tidak menyadari sepenuhnya apa saja yang tercakup dalam rencana itu. Atau, ia sedang mengingini satu kekuatan untuk melaksanakannya. Akan tetapi, dalam diri Allah tidak ada hal-hal yang demikian. Allah sama sekali tidak kekurangan pengetahuan, semangat, atau kekuatan. Dan Allah tidak akan mengubah segala ketetapan-Nya, karena Ia adalah Allah yang tidak berubah dan karena Ia adalah setia dan benar. "Tetapi Ia tidak pernah berubah - siapa dapat menghalangi Dia? Apa yang dikehendaki-Nya, dilaksanakan-Nya juga. Karena Ia akan menyelesaikan apa yang ditetapkan atasku, dan banyak lagi hal yang serupa itu dimaksudkan-Nya." (Ayub 23:13-14) Selanjutnya, Yakobus 1:17, "Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang; pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran."

d.      Ketetapan itu tanpa syarat/mutlak
Hal ini berarti bahwa ketetapan Allah sama sekali tidak tergantung pada segala sesuatu yang bukan merupakan bagian dari ketetapan itu sendiri. Allah bukan hanya menetapkan untuk menyelamatkan orang berdosa dengan menentukan sarana untuk melaksanakan ketetapan itu, sarana yang menuju kepada akhir yang telah ditentukan sejak semula itu juga ditetapkan. Ciri kemutlakan ketetapan itu berasal dari kekekalan-Nya dan ketidakberubahan-Nya.

Kisah Para Rasul 2:23, "Dia yang diserahkan Allah menurut maksud dan rencana-Nya, telah kamu salibkan dan kamu bunuh oleh tangan bangsa-bangsa durhaka." Efesus 2:8, "Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah." 1 Petrus 1:2, "Yaitu orang-orang yang dipilih, sesuai dengan rencana Allah, Bapa kita, dan yang dikuduskan oleh Roh, supaya taat kepada Yesus Kristus dan menerima percikan darah-Nya. Kiranya kasih karunia dan damai sejahtera makin melimpah atas kamu."

e.      Ketetapan Allah itu bersifat universal untuk semua makhluk
Ketetapan itu mencakup apa saja yang akan terjadi dalam dunia, baik dalam hal fisik maupun moral, baik ataupun jahat. Ketetapan itu mencakup tindakan-tindakan manusia yang baik, perbuatan manusia yang buruk, dan peristiwa-peristiwa yang belum jelas di sepanjang usia manusia dan tempat tinggal mereka. Dalam Efesus 2:10, menyatakan, "Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya." Kejadian 50:20, "Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar."

f.        Ketetapan Allah itu kudus
Semua ketetapan Allah dilandaskan pada pertimbangan ilahi yang paling bijaksana dan kudus. Karena Ia Mahakudus dan tidak mungkin bersikap pilih kasih atau tidak adil, Allah dapat membuat semua rencana-Nya sesuai dengan apa yang sungguh-sungguh benar adanya. Jadi, atas dasar kebijaksanaan dan kekudusan-Nya Allah membuat segala ketetapan itu. "Aku akan melakukannya oleh karena Aku, ya oleh karena Aku sendiri, sebab masakan nama-Ku akan dinajiskan? Aku tidak akan memberikan kemuliaan-Ku kepada yang lain!" (Yesaya 48:11)

g.      Ketetapan Allah itu memunyai tujuan akhir untuk kemuliaan Allah
Tujuan terakhir dan tertinggi dari semua ketetapan Allah ialah kemuliaan-Nya. Ciptaan memuliakan Dia. Daud mengatakan, "Langit menceritakan kemuliaan Allah dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya" (Mazmur 19:2). Dan kedua puluh empat tua-tua melemparkan mahkota mereka di depan takhta Allah sambil berkata, "Ya Tuhan dan Allah kami, Engkau layak menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa; sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu; dan oleh karena kehendak-Mu semuanya itu ada dan diciptakan" (Wahyu 4:11). Jadi, tujuan akhir dari segala sesuatu ialah kemuliaan Allah; dan hanya pada saat kita menerima kenyataan ini sebagai tujuan akhir kehidupan kitalah maka kita akan hidup pada tingkatan yang paling tinggi dan paling selaras dengan kehendak-Nya. Bilangan 14:21, "Hanya, demi Aku yang hidup dan kemuliaan TUHAN memenuhi seluruh bumi." Yesaya 6:3, "Dan mereka berseru seorang kepada seorang, katanya: 'Kudus, kudus, kuduslah TUHAN semesta alam, seluruh bumi penuh kemuliaan-Nya.'"

h.      Seluruh ketetapan Allah yang berhubungan dengan dosa bersifat permisif (diizinkan)
Kita biasa menyebut ketetapan Allah yang berkaitan dengan kejahatan moral sebagai ketetapan yang mengijinkan atau memperbolehkan. Melalui ketetapan-Nya Allah mengizinkan tindakan atau perbuatan dosa manusia tanpa adanya maksud menyebabkan perbuatan dosa itu dengan cara bertindak langsung dan dalam kehendak yang terbatas. Sekalipun Allah bukan pencipta dosa dan Ia tidak mengharuskan adanya dosa itu, namun berlandaskan pertimbangan-Nya yang bijaksana dan kudus, Ia telah menetapkan untuk mengizinkan terjadinya kejatuhan dan dosa. (Yakobus 1:13-14) Ketetapan ini dibuat-Nya karena Ia mengetahui bagaimana sifat dosa itu, apa yang akan dilakukan oleh dosa terhadap makhluk ciptaan-Nya, dan apa yang harus dilakukan-Nya untuk menyelamatkan manusia. Allah bisa saja mencegah masuknya dosa. Jika Allah telah memutuskan untuk menjaga agar kehendak malaikat dan manusia tidak menyeleweng, maka mereka itu akan tetap hidup dalam kekudusan. Seperti yang tertulis, "Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah". (Roma 8:28)

3.      Hubungan Ketetapan dan Kehendak Allah
Allah menetapkan segala sesuatu sesuai dengan kehendak kedaulatan-Nya. Kehendak Allah seringkali dibagi ke dalam dua kategori:
a.      Kehendak yang dinyatakan (yang tidak tersembunyi): Semua perintah Allah yang ada dan diberikan Allah dalam Alkitab.
b.      Kehendak Allah yang tidak dinyatakan (tersembunyi): Semua kejadian detail yang akan terjadi dan hal-hal lain yang tidak Tuhan nyatakan kepada manusia. Ulangan 29:29, "Hal-hal yang tersembunyi ialah bagi TUHAN, Allah kita, tetapi hal-hal yang dinyatakan ialah bagi kita dan bagi anak-anak kita sampai selama-lamanya, supaya kita melakukan segala perkataan hukum Taurat ini."

4.      Kesulitan-kesulitan Menerima Doktrin Ketetapan Allah
a.      Bagaimana dengan kehendak bebas manusia? Apa arti kata "bebas"? Allah tidak pernah membicarakan tentang kebebasan manusia dalam arti di luar Allah. Tetapi manusia memunyai kebebasan dalam memutuskan akan pilihan, dan pilihan itu memberikan konsekuensi tanggung jawab atas apa yang dilakukan.
b.      Apakah usaha manusia untuk mendapatkan keselamatan tidak diperhitungkan? Tuhan bekerja melalui tindakan manusia. Jadi, bagaimanapun juga manusia harus bertindak, dan tindakan manusia itu berasal dari kehendak manusia sendiri. Dalam hal keselamatan, manusia tidak tahu akan keputusan keselamatan bagi dirinya.

c.       Apakah Allah yang menciptakan dosa? Allah mengizinkan dosa terjadi, tetapi Allah tidak melakukan dosa. Namun demikian, keberadaan dosa itu pun ada di bawah kuasa kedaulatan Allah.
  1. Predestinasi (Doktrin Pilihan)
Beralih dari pembicaraan mengenai ketetapan Allah dan masuk dalam pembicaraan mengenai Predestinasi, masih berhubungan dengan pokok bahasan yang sama, tetapi beralih dari pembicaraan umum masuk dalam pembicaraan yang lebih khusus.

1.      Pengertian/Definisi
Kata "predestinasi" tidak selalu dipakai dalam pengertian yang sama. Kadang-kadang kata ini dipakai semata-mata sebagai sinonim dari istilah generik "ketetapan". Dalam hal lain kata ini dipakai untuk menunjuk tujuan Allah yang berkaitan dengan manusia. Akan tetapi, yang paling sering adalah bahwa kata ini mengandung arti "pertimbangan" Allah berkenaan dengan manusia yang jatuh dalam dosa, termasuk pemilihan yang berdaulat dari sebagian orang, dan penolakan atas sebagian yang lain."
Predestinasi adalah ketetapan Allah sebelum dunia diciptakan, yang mana Ia memilih beberapa orang untuk diselamatkan dan yang lain dibiarkan untuk binasa.

2.      Bukti Alkitab
Alkitab membahas 3 macam "pemilihan":
a.      Pemilihan terhadap Israel dalam Perjanjian Lama
b.      Pemilihan terhadap orang-orang yang melayani dalam Perjanjian Lama
c.       Pemilihan terhadap orang-orang secara pribadi untuk diselamatkan
Ayat-ayat Alkitab yang berbicara tentang "pilihan" (Kisah Para Rasul 13:48, Roma 8:28-30; 9:11-13, 2 Timotius 1:9, 1 Tesalonika 1:4-5).

3.      Kesalahpahaman yang Sering Terjadi
a.      Pilihan bukan nasib
b.      Pilihan bukan karena perbuatan baik manusia (berkondisi)
c.       Pilihan tidak berdasarkan akan pengetahuan Allah akan iman kita yang akan datang

4.      Kesalahpahaman dari Doktrin Predestinasi (Pilihan)
a.      Doktrin Pilihan tidak memberikan kesempatan manusia untuk menerima atau menolak Kristus. Doktrin pilihan menjamin bahwa manusia dengan kehendak bebasnya dapat memilih, tetapi bukan berarti bahwa pilihan itu betul-betul bebas, karena manusia tidak mungkin bebas di luar Allah.

b.      Doktrin Pilihan itu bukan benar-benar pilihan. Supaya pilihan itu benar-benar terbebas dari Allah adalah tidak mungkin karena untuk hidup saja manusia harus bergantung pada Allah.

c.       Doktrin pilihan itu membuat manusia seperti robot. Tuhan yang menciptakan manusia dan menentukan segala aspek dalam hidupnya. Manusia hanya mengikuti perintah Tuhan.
d.      Doktrin pilihan itu tidak adil. Karena manusia yang selamat dan yang harus binasa sudah ditentukan sebelumnya.

Dalam 1 Timotius 2:3-4, "Itulah yang baik dan yang berkenan kepada Allah, Juru selamat kita, yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran." Selanjutnya, 2 Petrus 3:9, "Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat."


Akhir Pelajaran (DAS-P05)


DOA

"Seperti yang tertulis dalam firman-Mu, bahwa sebelum dunia dijadikan Engkau telah memilih kami untuk menjadi bagian dalam rencana-Mu yang ajaib. Kami mengucap syukur atas pembelajaran hari ini, di mana kami boleh memperoleh pengetahuan tentang kasih dan rahmat-Mu yang Engkau berikan dalam hidup kami melalui ketetapan-ketetapan-Mu. Amin."