Pendalaman Alkitab
Senin, 22 Juni 2015
Senin, 03 Februari 2014
PELAJARAN 06. PENCIPTAAN DAN PEMELIHARAAN ALLAH
Nama Kursus
|
:
|
Doktrin
Allah Sejati
|
Nama
Pelajaran
|
:
|
Penciptaan
Dan Pemeliharaan Allah
|
Kode
Pelajaran
|
:
|
DAS-P06
|
PELAJARAN 06.
PENCIPTAAN DAN PEMELIHARAAN ALLAH
Daftar Isi
- Penciptaan
- Pengertian
- Doktrin Penciptaan dalam Sejarah
- Bukti Alkitab dan Dasar Teologis
Penciptaan
- Pemeliharaan Allah (Providensia Allah)
- Arti Etimologi (Asal Kata)
- Pengertian/Definisi
- Unsur-unsur Providensia Allah
Doa
PENCIPTAAN
DAN PEMELIHARAAN ALLAH
"Sebab
beginilah firman Tuhan, yang menciptakan langit, Dialah Allah yang membentuk
bumi dan menjadikannya dan yang menegakkannya, dan Ia menciptakannya bukan
supaya kosong, tetapi Ia membentuknya untuk didiami: 'Akulah Tuhan dan tidak
ada yang lain"(Yesaya 45:18)
.
A. Penciptaan
Pembicaraan tentang ketetapan-ketetapan Allah biasanya membawa
kita pada pemikiran tentang pelaksanaan dari semua ketetapan tersebut, dan hal
ini dimulai dengan karya penciptaan. Penciptaan ini bukan saja yang pertama
dalam susunan waktu, tetapi juga berdasarkan urutan logisnya. Penciptaan adalah
permulaan dan dasar dari semua penyataan ilahi dan sebagai akibatnya juga
merupakan dasar dari semua kehidupan etis dan religius.
Doktrin tentang penciptaan tidak dikemukakan dalam Alkitab sebagai
solusi filosofis dari problem dunia, tetapi dalam kepentingan etis dan
religiusnya, sebagai suatu penyataan dari hubungan antara manusia dengan
Tuhannya. Doktrin penciptaan menekankan bahwa fakta tentang Allah adalah asal
mula dari segala sesuatu dan bahwa segala sesuatu adalah kepunyaan-Nya dan
berhadapan dengan-Nya. Pengetahuan tentang doktrin penciptaan ini diturunkan
dari Alkitab saja dan diterima melalui iman (Ibrani 11:3), walaupun Katolik
Roma tetap berpegang pada pendapat bahwa doktrin penciptaan itu dapat juga diperoleh
dari Alam.
1. Pengertian
Penciptaan adalah tindakan bebas Allah di mana Allah menghasilkan
dunia dan semua yang ada di dalamnya (baik materi maupun spiritual), sebagian
tanpa bahan dan sebagian dengan bahan. Ia menciptakan untuk tujuan yang baik,
yaitu sebagai penyataan akan kemuliaan, kekuasaan, kebijaksanaan, dan
kebaikan-Nya. Orang Kristen percaya akan Doktrin Penciptaan (Teori Kreasi)
berdasarkan pada kesaksian Alkitab (Kejadian pasal 1). Pengetahuan tentang
penciptaan tidak mungkin diperoleh dari pemikiran manusia karena manusia
sendiri adalah hasil ciptaan itu. Oleh karena itu, jika bukan Allah sendiri
yang menyatakannya (sebagai Pencipta), maka tidak mungkin manusia dapat
mengetahuinya.
2. Doktrin
Penciptaan dalam Sejarah
a. Gereja
Mula-Mula percaya akan penciptaan sebagai tindakan bebas Allah dan juga sebagai
ex-nihilo (diciptakan tanpa bahan). Ajaran ini sangat penting pada masa itu
karena digunakan untuk melawan ajaran Gnostik yang percaya bahwa materi adalah
sesuatu yang jahat. Namun demikian, ada perbedaan pendapat yang berkaitan
dengan istilah "hari", apakah itu memiliki arti literal, suatu
periode tertentu, atau satu waktu tunggal yang tidak terbagi.
b. Augustinus:
Dari kekekalan penciptaan ada dalam kehendak Allah. Tidak ada waktu sebelum
penciptaan, karena dunia dijadikan dengan waktu (bukan dalam waktu). Penciptaan
adalah tanpa bahan (ex-nihilo). Hari-hari dalam penciptaan adalah sebuah momen
waktu untuk memberikan kelengkapan pada keterbatasan intelegensi manusia.
c. Pada masa
Reformasi, konsep ex-nihilo dipertahankan dengan kuat karena -- suatu tindakan
bebas Allah -- diciptakan dalam waktu 6 hari dalam arti harafiah.
d. Sesudah
Reformasi: Pengaruh ilmu pengetahuan dan konsep modern melahirkan kompromi
teologi dengan menganggap bahwa kisah dalam Kejadian 1 hanyalah mitos/alegoris.
Ada jeda waktu putus sesudah Kejadian 1:1-2 dengan ayat-ayat selanjutnya. Dan
satu hari adalah waktu yang lama sekali yaitu jutaan tahun.
3. Bukti Alkitab
dan Dasar Teologis Penciptaan
Bukti Alkitab bagi doktrin penciptaan tidaklah ditemukan dalam
satu ayat tunggal yang terbatas dalam Alkitab, tetapi dapat kita temukan dalam
setiap bagian firman Tuhan. Doktrin penciptaan ini tidaklah terdiri dari
sedikit ayat yang tersebar dengan penafsiran yang meragukan, akan tetapi
dinyatakan dalam sejumlah besar ayat yang jelas dan dalam pernyataan-pernyataan
yang sama sekali tidak meragukan, yang membicarakan tentang penciptaan dunia
sebagai suatu fakta historis. Pertama-tama, kita mendapatkan pemaparan yang
panjang lebar tentang penciptaan di dalam dua pasal pertama kitab Kejadian,
yang kemudian akan dibicarakan secara terperinci saat membahas penciptaan dalam
semesta secara materi.
Walaupun dalam memaparkan tentang penciptaan juga menyinggung
tentang penciptaan langit, tetapi Alkitab tidaklah terlalu menghabiskan waktu
untuk menceritakan tentang penciptaan dunia spiritual, dan ini merupakan suatu
hal yang sangat penting. Alkitab lebih memusatkan diri pada penjabaran tentang
penciptaan dunia materi saja, dan terutama menekankan bahwa dunia materi ini
dipersiapkan untuk tempat tinggal manusia dan sebagai arena untuk semua
kegiatan manusia. Penjelasan Alkitab tentang penciptaan ini tidaklah terlalu
berurusan dengan kenyataan-kenyataan yang tidak kasat mata, dan oleh sebab
semua hal yang kasat mata itu menyangkut indera manusia, maka penciptaan ini
bukan saja menjadi pokok bahasan yang penting dalam teologi melainkan juga
dalam ilmu-ilmu pengetahuan yang lain, termasuk filsafat. Akan tetapi,
sementara filsafat berusaha memahami asal mula alam semesta dan segala sesuatu
berdasarkan kemampuan pemikiran manusia, teologi memulai titik berangkatnya
pada Tuhan, dan membiarkan dirinya dipimpin oleh wahyu khusus-Nya yang
menyatakan karya penciptaan, dan melihat segala sesuatu dalam hubungan
dengan-Nya. Kisah tentang penciptaan adalah permulaan dari wahyu Allah sendiri,
dan memperkenalkan kita pada hubungan yang mendasar di mana segala sesuatu
termasuk manusia harus berdiri di hadapan-Nya. Penjelasan Alkitab menekankan
kedudukan manusia yang sebenarnya, dengan maksud agar seluruh umat manusia di
segala zaman memiliki pengertian yang benar bahwa seluruh Alkitab berisi wahyu
pendamaian.
§ Pasal-pasal yang menekankan kemahakuasaan
Allah dalam karya penciptaan: Yesaya 40:26-28; Amos 4:13.
§ Ayat-ayat yang menunjuk kepada pemuliaan Allah
di atas alam semesta sebagai Allah yang besar dan tiada terbatas: Mazmur 90:2;
Kisah Para Rasul 17:24.
§ Ayat-ayat yang menunjuk kebijaksanaan Allah
dalam karya penciptaan: Yesaya 40:12-14; Yeremia 10:12-16; Yohanes 1:3.
§ Ayat-ayat yang memandang penciptaan dari sudut
pandang kedaulatan Allah dan tujuan penciptaan: Yesaya 43:7; Roma 1:25.
§ Ayat-ayat yang membicarakan penciptaan sebagai
karya fundamental Allah: 1 Korintus 11:9; Kolose 1:16.
f.
Tindakan bebas Allah yang menunjukkan kedaulatan-Nya.
Bukan merupakan suatu kebutuhan
jika Allah menciptakan alam semesta, karena Allah sempurna adanya dan tidak
tergantung pada apa pun. Dan juga Allah tidak menciptakan alam semesta dari
diri-Nya sendiri. Keberadaan alam semesta bukanlah perluasan dari keberadaan
Allah karena alam semesta adalah bebas, di luar Allah. Wahyu 4:11, "Ya
Tuhan dan Allah kami, Engkau layak menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa;
sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu; dan oleh karena kehendak-Mu
semuanya itu ada dan diciptakan."
"Dan juga tidak dilayani oleh
tangan manusia, seolah-olah Ia kekurangan apa-apa, karena Dialah yang
memberikan hidup dan nafas dan segala sesuatu kepada semua orang." (Kisah
Para Rasul 17:25)
g. Tujuan paling
utama yang dilihat-Nya bukanlah untuk memperoleh kemuliaan, melainkan untuk
memanifestasikan kemuliaan yang dimiliki-Nya.
Dalam melakukan hal itu Ia juga
akan menyebabkan surga menyatakan kemuliaan-Nya, dan cakrawala menunjukkan
pekerjaan tangan-Nya, burung-burung di udara dan binatang buas memuliakan-Nya,
dan anak-anak manusia menyanyikan pujian. Akan tetapi, pujian kepada Sang
Pencipta tidaklah menambahkan apa-apa pada kesempurnaan keberadaan-Nya, tetapi
hanyalah mengakui kebesaran-Nya dan memberikan kepada-Nya kemuliaan bagi-Nya.
Alam semesta merupakan hasil karya
Allah yang diciptakan dengan tujuan untuk memperlihatkan kemuliaan-Nya. Oleh
karena itu, patutlah kita mempelajarinya agar dapat menyaksikan kemuliaan
Allah. Selain itu, adalah wajar bagi kita untuk berusaha semaksimal mungkin
untuk memuliakan Dia. Jawaban terhadap doa-doa kita dengan sendirinya akan
membuat kita memuliakan Tuhan; demikian pula kita harus memuliakan Dia setelah
menyelidiki janji-janji dan persediaan Allah menuntun kita memuliakan Dia.
Bahkan, seperti yang dinasihatkan oleh Paulus, "Jika Engkau makan atau
jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah
semuanya itu untuk kemuliaan Allah"(I Korintus 10:31).
Yesaya 43:7, "Semua orang
yang disebutkan dengan nama-Ku yang Kuciptakan untuk kemuliaan-Ku, yang
Kubentuk dan yang juga Kujadikan!"
Wahyu 4:11, "Ya Tuhan dan
Allah kami, Engkau layak menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa; sebab
Engkau telah menciptakan segala sesuatu; dan oleh karena kehendak-Mu semuanya
itu ada dan diciptakan."
Pemeliharaan Allah (Providensia Allah)
Doktrin penciptaan segera diikuti dengan doktrin providensia yang
di dalamnya jelas didefinisikan pandangan Alkitab tentang hubungan antara Allah
dengan dunia. Walaupun istilah "providensia" tidak ditemukan dalam
Alkitab, doktrin providensia sesungguhnya memancar dari Alkitab.
Arti Etimologi (Asal Kata)
Kata ini berasal dari bahasa Yunani "Pronoia", yang
artinya pengetahuan awal. Dalam bahasa Latin "Providentia", artinya
tindakan kemurahan Allah menyediakan segala sesuatu yang diperlukan
ciptaan-Nya.
Pengertian
.
Providensia adalah aktivitas Allah (Pencipta) yang terus-menerus
oleh rahmat-Nya dan kebaikan-Nya yang melimpah menegakkan ciptaan-Nya dalam
keadaan teratur, memimpin dan memerintahkan segala sesuatu kepada tujuan yang
telah ditetapkan demi kemuliaan-Nya.
a. Keterlibatan
Allah secara terus-menerus dengan semua ciptaan-Nya sedemikian rupa, sehingga
Allah selalu menjaga keberadaan ciptaan dan memelihara semua sifat-sifat yang
dimiliki mereka sebagaimana Allah menciptakan mereka. Dan juga bekerja sama
dengan semua ciptaan-Nya dalam setiap tindakan, dan menuntun serta mengarahkan
semua sifat-sifat yang dimiliki mereka itu sebagaimana seharusnya, dan
mengarahkan mereka untuk memenuhi semua kehendak-Nya.
Inti pengajaran doktrin pemeliharaan
Allah adalah penekanan pada pemerintahan Allah atas alam semesta. Dia
memerintah ciptaan-Nya dengan kedaulatan dan otoritas yang mutlak. Dia
memerintah segala sesuatu yang akan terjadi, mulai dari yang paling besar
sampai yang paling kecil. Tidak ada sesuatu pun yang terjadi di luar lingkup
pemerintahan pemeliharaan Allah yang berdaulat. Dia yang membuat hujan turun
dan matahari bersinar. Dia yang mendirikan kerajaan dan yang menghancurkan
kerajaan. Dia mengetahui jumlah rambut di kepala kita dan hari-hari dalam
kehidupan kita.
Ada perbedaan yang krusial antara
pemeliharaan Allah, keberuntungan, dan takdir atau kebetulan. Kunci dari
perbedaan ini terletak pada karakter Allah. Keberuntungan adalah buta,
sedangkan Allah melihat segala sesuatu. Takdir tidak berpribadi, sedangkan
Allah seorang Bapa. Kebetulan adalah bisu, sedangkan Allah berbicara. Tidak ada
kekuatan-kekuatan yang buta dan tidak berpribadi yang bekerja dalam sejarah
manusia. Semua terjadi oleh karena tangan pemelihara yang tidak kelihatan.
Di dalam sebuah alam semesta yang
diperintah oleh Allah tidak ada peristiwa yang terjadi secara kebetulan. Pada
dasarnya tidak ada yang disebut dengan kebetulan. Kebetulan tidak pernah ada.
Kata itu hanya kita gunakan untuk menjelaskan kemungkinan-kemungkinan secara
matematika. Tetapi, kebetulan itu sendiri bukan merupakan suatu keberadaan yang
dapat memengaruhi realitas.
Aspek lain dari pemeliharaan Allah
disebut dengan bekerja sama. Kerja sama ini menunjuk pada kesatuan antara
tindakan Allah dan tindakan manusia. Kita adalah makhluk ciptaan yang memiliki
kehendak dalam diri kita sendiri. Kita dapat menjadikan sesuatu terjadi. Namun,
kuasa yang kita keluarkan sebagai penyebab dari hal itu merupakan hal yang
kedua. Kedaulatan dari pemeliharaan Allah berada di atas dan melampaui
tindakan-tindakan kita. Dia bekerja berdasarkan kehendak-Nya melalui
tindakan-tindakan dari kehendak manusia. Contoh yang paling jelas untuk
kerjasama ini dapat kita temukan dalam kisah Yusuf dan saudara-saudaranya dalam
Alkitab. Meskipun saudara-saudara Yusuf menyatakan rasa bersalah mereka atas
apa yang telah mereka lakukan pada Yusuf, pemeliharaan Allah bekerja bahkan
melalui dosa yang mereka lakukan. Yusuf berkata kepada saudara-saudaranya,
"Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah
telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang
terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar"
(Kejadian 50:20).
Objek dari Providensia Allah
.
Ajaran Alkitab
Alkitab jelas mengajarkan
pengaturan providensia Allah atas seluruh alam semesta secara luas (Mazmur
103:19). Atas penciptaan binatang (Mazmur 104:14); atas semua kegiatan
bangsa-bangsa (Ayub 12:23); atas kelahiran dan hidup manusia (Galatia 1:1-15);
atas keberhasilan dan kegagalan manusia (Mazmur 75:6); atas hal-hal yang
tampaknya hanyalah ketidaksengajaan atau tidak penting (Amsal 16:33); dalam
perlindungan atas orang benar (Mazmur 4:8); dalam memenuhi kebutuhan umat-Nya
(Filipi 4:19); dalam memberikan jawaban terhadap doa (1 Samuel 1:19); dan dalam
menghukum kejahatan (Mazmur 7:12).
a. Providensia
umum dan khusus
Para teolog pada umumnya
membedakan antara providensia umum dan providensia khusus, di mana providensia
umum adalah pengaturan Allah atas seluruh alam semesta sebagai satu kesatuan,
dan providensia khusus adalah pemeliharaan Allah dari setiap bagian alam
semesta dalam hubungannya dengan keseluruhan. Keduanya bukanlah dua jenis
providensia yang dilakukan dalam hubungan yang berbeda. Istilah
"providensia khusus" mungkin dapat memiliki konotasi khusus dan dalam
beberapa hal menunjuk pada perlindungan dan campur tangan Allah secara khusus
bagi manusia.
Akhir
Pelajaran (DAS-P06)
DOA
"Terima kasih Tuhan Yesus untuk pembelajaran hari ini, di
mana kami boleh lebih lagi mensyukuri karya-Mu dalam hidup kami dan
pemeliharaan-Mu yang sempurna atas kami, yang menjadi penolong dalam hidup
kami. Kuatkanlah kami sehingga kami dapat membagikan berkat ini kepada orang
lain. Amin."
Pelajaran 05. KETETAPAN ALLAH DAN PREDESTINASI
Nama Kursus
|
:
|
Doktrin
Allah Sejati
|
Nama
Pelajaran
|
:
|
Ketetapan
Allah Dan Predestinasi
|
Kode
Pelajaran
|
:
|
DAS-P05
|
Pelajaran 05.
KETETAPAN ALLAH DAN PREDESTINASI
Daftar Isi
Bacaan Alkitab: Efesus 1:11
- Ketetapan Allah
- Pengertian
- Sifat Ketetapan Allah
- Hubungan Ketetapan dan Kehendak Allah
- Kesulitan-Kesulitan Menerima Doktrin
Ketetapan Allah
- Predestinasi (Doktrin Pilihan)
- Pengertian
- Bukti Alkitab
- Kesalahpahaman yang Sering Terjadi
- Kesalahpahaman dari Doktrin Predestinasi
(Pilihan)
Doa
KETETAPAN
ALLAH DAN PREDESTINASI
"Aku katakan 'di dalam Kristus', karena di dalam Dialah kami
mendapat bagian yang dijanjikan -- kami yang dari semula ditentukan untuk
menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah, yang di dalam segala sesuatu
bekerja menurut keputusan kehendak-Nya".
(Efesus 1:11)
(Efesus 1:11)
A. Ketetapan
Allah
Allah menyelenggarakan segala sesuatu menurut keputusan
kehendak-Nya, maka sudah pada tempatnya kalau karya-karya Allah diuraikan
setelah pribadi Allah dibicarakan. Akan tetapi, sebelum hal ini dapat
dilakukan, kita terlebih dahulu harus menganalisis ketetapan-ketetapan Allah.
1. Pengertian
Ketetapan Allah adalah rencana kekal Allah yang dilandaskan pada
pertimbangan ilahi yang paling bijaksana dan kudus. Dengan jalan ini maka Allah
secara bebas dan tidak berubah, demi kemuliaan-Nya sendiri, telah menetapkan
secara efektif segala sesuatu yang akan terjadi.
2. Ciri-ciri
khas Ketetapan Allah
a. Ketetapan
Allah bersifat kekal
Dalam pengertian bahwa ketetapan
ini terletak sepenuhnya dalam kekekalan. Dalam satu pengertian tertentu dapat
dikatakan bahwa semua tindakan Allah adalah kekal, sebab tidak ada urut-urutan
waktu dalam keberadaan Allah. Dalam Efesus 1:4, "Sebab di dalam Dia Allah
telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat
di hadapan-Nya." 2 Timotius 1:9, "Dialah yang menyelamatkan kita dan
memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita,
melainkan berdasarkan maksud dan kasih karunia-Nya sendiri, yang telah
dikaruniakan kepada kita dalam Kristus Yesus sebelum permulaan zaman." 1
Petrus 1:20, "Ia telah dipilih sebelum dunia dijadikan, tetapi karena kamu
baru menyatakan diri-Nya pada zaman akhir."
b. Ketetapan itu
berdasarkan pada Hikmat Allah dan Pengetahuan Allah
Ada banyak hal dalam ketetapan
Allah yang melampaui pemahaman manusia dan tak dapat dijelaskan dengan akal
manusia yang terbatas. Akan tetapi, pertimbangan itu sama sekali tidak berisi
sesuatu yang irasional atau sembarangan saja. Allah membentuk ketetapan-Nya
dengan satu kebijaksanaan dan pengetahuan yang berasal dari dalam diri-Nya.
Efesus 3:10-11, "Supaya sekarang oleh jemaat diberitahukan pelbagai ragam
hikmat Allah kepada pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa di sorga,
sesuai dengan maksud abadi, yang telah dilaksanakan-Nya dalam Kristus Yesus, Tuhan
kita."
Mazmur 104:24, "Betapa banyak
perbuatan-Mu, ya TUHAN, sekaliannya Kaujadikan dengan kebijaksanaan, bumi penuh
dengan ciptaan-Mu."
Yeremia 10:12, "Tuhanlah yang
menjadikan bumi dengan kekuatan-Nya, yang menegakkan dunia dengan
kebijaksanaan-Nya, dan yang membentangkan langit dengan akal budi-Nya."
Ketetapan Allah itu pasti akan terjadi/terpenuhi. Apa yang telah Ia tetapkan
pastilah akan terjadi; dan bahwa tidak ada satu pun yang dapat menghalangi
maksud-Nya.
Yesaya 46:10, "Yang
memberitahukan dari mulanya hal yang kemudian dan dari zaman purbakala apa yang
belum terlaksana, yang berkata: Keputusan-Ku akan sampai, dan segala
kehendak-Ku akan Kulaksanakan."
c. Ketetapan
Allah itu tidak berubah
Manusia mungkin memiliki
rencana-rencana, dan bahkan seringkali mengubah rencananya karena berbagai
alasan. Ada kemungkinan dalam membuat rencana itu ia kurang sungguh-sungguh
dalam mengejar tujuannya, sehingga ia tidak menyadari sepenuhnya apa saja yang
tercakup dalam rencana itu. Atau, ia sedang mengingini satu kekuatan untuk
melaksanakannya. Akan tetapi, dalam diri Allah tidak ada hal-hal yang demikian.
Allah sama sekali tidak kekurangan pengetahuan, semangat, atau kekuatan. Dan
Allah tidak akan mengubah segala ketetapan-Nya, karena Ia adalah Allah yang
tidak berubah dan karena Ia adalah setia dan benar. "Tetapi Ia tidak
pernah berubah - siapa dapat menghalangi Dia? Apa yang dikehendaki-Nya,
dilaksanakan-Nya juga. Karena Ia akan menyelesaikan apa yang ditetapkan atasku,
dan banyak lagi hal yang serupa itu dimaksudkan-Nya." (Ayub 23:13-14)
Selanjutnya, Yakobus 1:17, "Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah
yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang;
pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran."
d. Ketetapan itu
tanpa syarat/mutlak
Hal ini berarti bahwa ketetapan
Allah sama sekali tidak tergantung pada segala sesuatu yang bukan merupakan
bagian dari ketetapan itu sendiri. Allah bukan hanya menetapkan untuk
menyelamatkan orang berdosa dengan menentukan sarana untuk melaksanakan
ketetapan itu, sarana yang menuju kepada akhir yang telah ditentukan sejak
semula itu juga ditetapkan. Ciri kemutlakan ketetapan itu berasal dari
kekekalan-Nya dan ketidakberubahan-Nya.
Kisah Para Rasul 2:23, "Dia
yang diserahkan Allah menurut maksud dan rencana-Nya, telah kamu salibkan dan
kamu bunuh oleh tangan bangsa-bangsa durhaka." Efesus 2:8, "Sebab
karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu,
tetapi pemberian Allah." 1 Petrus 1:2, "Yaitu orang-orang yang dipilih,
sesuai dengan rencana Allah, Bapa kita, dan yang dikuduskan oleh Roh, supaya
taat kepada Yesus Kristus dan menerima percikan darah-Nya. Kiranya kasih
karunia dan damai sejahtera makin melimpah atas kamu."
e. Ketetapan
Allah itu bersifat universal untuk semua makhluk
Ketetapan itu mencakup apa saja
yang akan terjadi dalam dunia, baik dalam hal fisik maupun moral, baik ataupun
jahat. Ketetapan itu mencakup tindakan-tindakan manusia yang baik, perbuatan
manusia yang buruk, dan peristiwa-peristiwa yang belum jelas di sepanjang usia
manusia dan tempat tinggal mereka. Dalam Efesus 2:10, menyatakan, "Karena
kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan
baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya."
Kejadian 50:20, "Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku,
tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan
seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang
besar."
f.
Ketetapan Allah itu kudus
Semua ketetapan Allah dilandaskan
pada pertimbangan ilahi yang paling bijaksana dan kudus. Karena Ia Mahakudus
dan tidak mungkin bersikap pilih kasih atau tidak adil, Allah dapat membuat
semua rencana-Nya sesuai dengan apa yang sungguh-sungguh benar adanya. Jadi,
atas dasar kebijaksanaan dan kekudusan-Nya Allah membuat segala ketetapan itu.
"Aku akan melakukannya oleh karena Aku, ya oleh karena Aku sendiri, sebab
masakan nama-Ku akan dinajiskan? Aku tidak akan memberikan kemuliaan-Ku kepada
yang lain!" (Yesaya 48:11)
g. Ketetapan
Allah itu memunyai tujuan akhir untuk kemuliaan Allah
Tujuan terakhir dan tertinggi dari
semua ketetapan Allah ialah kemuliaan-Nya. Ciptaan memuliakan Dia. Daud
mengatakan, "Langit menceritakan kemuliaan Allah dan cakrawala memberitakan
pekerjaan tangan-Nya" (Mazmur 19:2). Dan kedua puluh empat tua-tua
melemparkan mahkota mereka di depan takhta Allah sambil berkata, "Ya Tuhan
dan Allah kami, Engkau layak menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa; sebab
Engkau telah menciptakan segala sesuatu; dan oleh karena kehendak-Mu semuanya
itu ada dan diciptakan" (Wahyu 4:11). Jadi, tujuan akhir dari segala
sesuatu ialah kemuliaan Allah; dan hanya pada saat kita menerima kenyataan ini
sebagai tujuan akhir kehidupan kitalah maka kita akan hidup pada tingkatan yang
paling tinggi dan paling selaras dengan kehendak-Nya. Bilangan 14:21,
"Hanya, demi Aku yang hidup dan kemuliaan TUHAN memenuhi seluruh
bumi." Yesaya 6:3, "Dan mereka berseru seorang kepada seorang,
katanya: 'Kudus, kudus, kuduslah TUHAN semesta alam, seluruh bumi penuh
kemuliaan-Nya.'"
h. Seluruh
ketetapan Allah yang berhubungan dengan dosa bersifat permisif (diizinkan)
Kita biasa menyebut ketetapan
Allah yang berkaitan dengan kejahatan moral sebagai ketetapan yang mengijinkan
atau memperbolehkan. Melalui ketetapan-Nya Allah mengizinkan tindakan atau
perbuatan dosa manusia tanpa adanya maksud menyebabkan perbuatan dosa itu
dengan cara bertindak langsung dan dalam kehendak yang terbatas. Sekalipun
Allah bukan pencipta dosa dan Ia tidak mengharuskan adanya dosa itu, namun
berlandaskan pertimbangan-Nya yang bijaksana dan kudus, Ia telah menetapkan
untuk mengizinkan terjadinya kejatuhan dan dosa. (Yakobus 1:13-14) Ketetapan
ini dibuat-Nya karena Ia mengetahui bagaimana sifat dosa itu, apa yang akan
dilakukan oleh dosa terhadap makhluk ciptaan-Nya, dan apa yang harus
dilakukan-Nya untuk menyelamatkan manusia. Allah bisa saja mencegah masuknya
dosa. Jika Allah telah memutuskan untuk menjaga agar kehendak malaikat dan
manusia tidak menyeleweng, maka mereka itu akan tetap hidup dalam kekudusan.
Seperti yang tertulis, "Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja
dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi
Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah". (Roma
8:28)
3. Hubungan
Ketetapan dan Kehendak Allah
Allah menetapkan segala sesuatu sesuai dengan kehendak
kedaulatan-Nya. Kehendak Allah seringkali dibagi ke dalam dua kategori:
a. Kehendak yang
dinyatakan (yang tidak tersembunyi): Semua perintah Allah yang ada dan
diberikan Allah dalam Alkitab.
b. Kehendak
Allah yang tidak dinyatakan (tersembunyi): Semua kejadian detail yang akan
terjadi dan hal-hal lain yang tidak Tuhan nyatakan kepada manusia. Ulangan
29:29, "Hal-hal yang tersembunyi ialah bagi TUHAN, Allah kita, tetapi
hal-hal yang dinyatakan ialah bagi kita dan bagi anak-anak kita sampai
selama-lamanya, supaya kita melakukan segala perkataan hukum Taurat ini."
4. Kesulitan-kesulitan
Menerima Doktrin Ketetapan Allah
a. Bagaimana
dengan kehendak bebas manusia? Apa arti kata "bebas"? Allah tidak
pernah membicarakan tentang kebebasan manusia dalam arti di luar Allah. Tetapi
manusia memunyai kebebasan dalam memutuskan akan pilihan, dan pilihan itu
memberikan konsekuensi tanggung jawab atas apa yang dilakukan.
b. Apakah usaha
manusia untuk mendapatkan keselamatan tidak diperhitungkan? Tuhan bekerja
melalui tindakan manusia. Jadi, bagaimanapun juga manusia harus bertindak, dan
tindakan manusia itu berasal dari kehendak manusia sendiri. Dalam hal
keselamatan, manusia tidak tahu akan keputusan keselamatan bagi dirinya.
c. Apakah Allah
yang menciptakan dosa? Allah mengizinkan dosa terjadi, tetapi Allah tidak
melakukan dosa. Namun demikian, keberadaan dosa itu pun ada di bawah kuasa
kedaulatan Allah.
- Predestinasi (Doktrin Pilihan)
Beralih dari pembicaraan mengenai ketetapan Allah dan masuk dalam
pembicaraan mengenai Predestinasi, masih berhubungan dengan pokok bahasan yang
sama, tetapi beralih dari pembicaraan umum masuk dalam pembicaraan yang lebih
khusus.
1. Pengertian/Definisi
Kata "predestinasi" tidak selalu dipakai dalam
pengertian yang sama. Kadang-kadang kata ini dipakai semata-mata sebagai
sinonim dari istilah generik "ketetapan". Dalam hal lain kata ini
dipakai untuk menunjuk tujuan Allah yang berkaitan dengan manusia. Akan tetapi,
yang paling sering adalah bahwa kata ini mengandung arti
"pertimbangan" Allah berkenaan dengan manusia yang jatuh dalam dosa,
termasuk pemilihan yang berdaulat dari sebagian orang, dan penolakan atas
sebagian yang lain."
Predestinasi adalah ketetapan Allah sebelum dunia diciptakan, yang
mana Ia memilih beberapa orang untuk diselamatkan dan yang lain dibiarkan untuk
binasa.
2. Bukti Alkitab
Alkitab membahas 3 macam "pemilihan":
a. Pemilihan
terhadap Israel dalam Perjanjian Lama
b. Pemilihan
terhadap orang-orang yang melayani dalam Perjanjian Lama
c. Pemilihan
terhadap orang-orang secara pribadi untuk diselamatkan
Ayat-ayat Alkitab yang berbicara tentang "pilihan"
(Kisah Para Rasul 13:48, Roma 8:28-30; 9:11-13, 2 Timotius 1:9, 1 Tesalonika
1:4-5).
3. Kesalahpahaman
yang Sering Terjadi
a. Pilihan bukan
nasib
b. Pilihan bukan
karena perbuatan baik manusia (berkondisi)
c. Pilihan tidak
berdasarkan akan pengetahuan Allah akan iman kita yang akan datang
4. Kesalahpahaman
dari Doktrin Predestinasi (Pilihan)
a. Doktrin
Pilihan tidak memberikan kesempatan manusia untuk menerima atau menolak
Kristus. Doktrin pilihan menjamin bahwa manusia dengan kehendak bebasnya dapat
memilih, tetapi bukan berarti bahwa pilihan itu betul-betul bebas, karena
manusia tidak mungkin bebas di luar Allah.
b. Doktrin
Pilihan itu bukan benar-benar pilihan. Supaya pilihan itu benar-benar terbebas
dari Allah adalah tidak mungkin karena untuk hidup saja manusia harus
bergantung pada Allah.
c. Doktrin
pilihan itu membuat manusia seperti robot. Tuhan yang menciptakan manusia dan
menentukan segala aspek dalam hidupnya. Manusia hanya mengikuti perintah Tuhan.
d. Doktrin
pilihan itu tidak adil. Karena manusia yang selamat dan yang harus binasa sudah
ditentukan sebelumnya.
Dalam 1 Timotius 2:3-4, "Itulah yang baik dan yang berkenan
kepada Allah, Juru selamat kita, yang menghendaki supaya semua orang
diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran." Selanjutnya, 2
Petrus 3:9, "Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang
yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia
menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang
berbalik dan bertobat."
Akhir
Pelajaran (DAS-P05)
DOA
"Seperti yang tertulis dalam firman-Mu, bahwa sebelum dunia
dijadikan Engkau telah memilih kami untuk menjadi bagian dalam rencana-Mu yang
ajaib. Kami mengucap syukur atas pembelajaran hari ini, di mana kami boleh
memperoleh pengetahuan tentang kasih dan rahmat-Mu yang Engkau berikan dalam
hidup kami melalui ketetapan-ketetapan-Mu. Amin."
Langganan:
Komentar (Atom)